
lintasakurat.com Jambi – Setiap 10 November, bangsa ini memperingati Hari Pahlawan sebagai momen refleksi atas keberanian, integritas, dan pengabdian mereka yang memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan. Namun di Jambi, ironi muncul di tengah momentum bersejarah itu. Pemerintah provinsi berencana membongkar dan mengganti patung Sultan Thaha Syaifuddin di depan Kantor Gubernur—patung yang telah berdiri lebih dari dua dekade sebagai simbol keberanian, martabat, dan identitas masyarakat Jambi. Alih-alih merawat warisan yang telah melekat di ingatan kolektif, langkah ini tampak lebih dipandu oleh pragmatisme visual dan keinginan “wajah baru kota” semata, sekaligus berpotensi menimbulkan pemborosan anggaran di tengah keterbatasan fiskal daerah yang jelas-jelas membutuhkan prioritas untuk pembangunan infrastruktur publik yang lebih mendesak.
Patung yang hendak diganti bukan sekadar karya seni publik biasa. Ia adalah hasil cipta Edi Sunarso, maestro patung nasional yang juga melahirkan monumen ikonik di Jakarta. Proses pembuatannya berlangsung panjang, melalui diskusi mendalam dengan sejarawan, budayawan, dan tokoh pejuang Jambi. Material campuran berkualitas tinggi yang digunakan tidak hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga ketahanan selama lebih dari dua puluh tahun. Jika tampilannya kini tampak kusam, itu bukan tanda kerusakan permanen, melainkan akibat minimnya pemeliharaan teknis dan metode perawatan yang kurang tepat. Dalam perspektif konservasi seni, ini bukan alasan untuk membongkar karya; sebaliknya, ini justru menuntut keahlian, kesabaran, dan pendekatan ilmiah untuk merestorasi dan menghidupkannya kembali.
Pendekatan Pemprov Jambi terhadap patung ini tampak dangkal dan tergesa-gesa. Menilai patung lama dari tampilan luar semata dan memutuskan untuk menggantinya adalah contoh pragmatisme tanpa refleksi sejarah dan pengelolaan fiskal yang kurang bijak. Di saat APBD daerah terbatas, menggulirkan anggaran besar untuk patung baru jelas merupakan pemborosan yang tidak sejalan dengan prinsip prioritas pembangunan yang bertanggung jawab. Sultan Thaha bukan hanya figur yang diabadikan dalam logam; ia adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, keberanian menegakkan prinsip, dan identitas masyarakat Jambi. Mengganti patung ini berarti memutus hubungan generasi kini dengan narasi sejarah yang telah mereka bangun selama lebih dari dua dekade. Ia bukan sekadar ornamen kota, tetapi genius loci—roh tempat yang lahir dari interaksi antara bentuk, sejarah, dan masyarakatnya.
Momentum Hari Pahlawan harusnya mengingatkan kita bahwa penghormatan sejati terhadap pahlawan tidak ditentukan oleh besarnya patung atau kemegahan visual, tetapi oleh cara kita menjaga, merawat, dan meneladani nilai-nilai yang mereka perjuangkan. Mengikuti prinsip konservasi ala Cesare Brandi, tujuan restorasi bukan mengembalikan masa lalu secara literal, tetapi memastikan keberlanjutan makna dan keberadaan karya untuk masa depan. Pemerintah provinsi seharusnya fokus pada revitalisasi, perawatan ilmiah, dan penguatan konteks ruang publik, misalnya melalui penataan lanskap, pencahayaan, kolam reflektif, atau taman tematik, sehingga patung tetap menjadi pusat perhatian tanpa kehilangan orisinalitasnya. Langkah ini sekaligus lebih efisien secara anggaran, mengingat besarnya dana yang dibutuhkan untuk membuat patung baru, serta tetap selaras dengan keterbatasan fiskal daerah.
Lebih dari sekadar proyek fisik, patung Sultan Thaha adalah media pendidikan publik. Ia mengajarkan generasi kini tentang keberanian, integritas, dan perjuangan Jambi. Menambah panel informasi tentang Edi Sunarso, proses kreatifnya, dan makna sejarah Sultan Thaha akan menegaskan patung bukan sekadar simbol estetika, tetapi penanda identitas dan kebanggaan lokal.
Mengganti patung di tengah Hari Pahlawan adalah ironi yang mencederai semangat yang diwakili Sultan Thaha. Semangat keberanian, kehormatan, dan integritas yang ia perjuangkan tidak memerlukan patung baru; yang diperlukan adalah pemeliharaan dan penghormatan yang tepat agar simbol tersebut tetap bersinar, sama seperti semangat masyarakat Jambi yang harus tetap hidup dalam setiap langkah pembangunan kota. Modernitas yang tumbuh dari kearifan lokal jauh lebih kuat daripada kemegahan yang lahir dari pengabaian sejarah, apalagi jika harus mengorbankan anggaran daerah yang sangat dibutuhkan untuk kepentingan publik.
Hari Pahlawan 10 November seharusnya menjadi momen untuk menegaskan: menghormati pahlawan berarti merawat warisan sejarah, menjaga identitas kolektif, dan menggunakan sumber daya publik secara bijak, bukan menggantinya demi kepuasan visual sementara. Patung Sultan Thaha adalah saksi sejarah dan pengingat nilai perjuangan—ia harus tetap ada, tetap dipelihara, dan tetap menjadi inspirasi bagi generasi sekarang dan yang akan datang.
Oleh : IIN HABIBI ketua Pemuda Melayu Jambi












